Oleh: paksoleh | Maret 15, 2009

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi

Note : Tulisan ini dikutip dari link ini

Ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan yang tergolong muda. Sekalipun pada sisi yang lain, sejarah perkembangan ilmu komunikasi sudah tua sejak masa Yunani dan baru dirumuskan dalam era modern sebagai ilmu baru sejak dekade PD II.
Dewasa ini penelitian-penelitian komunikasi terus menerus dilakukan. Sejumlah jurnal ilmiah dalam bidang komunikasi terbit. Sejumlah karya ilmiah telah menjadi karya klasik dalam ilmu komunikasi seperti The People Choice, The Passing of Traditional Society, Mass Media and National Development, Personal Influence, Understanding Media, The Process and Effect of Communication, Public Opinion, dan sebagainya.
Demikian pula sejumlah figurnya seperti Paul F. Lazarfeld, Wilbur Schramm, Harold Lasswell, Walter Lippmann, Bernard Berelson, Carl Hovland, Elihu Katz, Daniel Lerner, David K. Berlo, Shannon, McComb, George G. Gebner, dan sebagainya telah dikenal sebagai tokoh-tokoh dalam kajian ilmu komunikasi.
Sedangkan di Indonesia terdapat sejumlah figur penting dalam bidang Ilmu Komunikasi seperti M. Alwi Dahlan, Astrid Susanto Sunario, Andi Muis, Jalaludin Rahmat, Ashadi Siregar, Anwar Arifin, Hafid Changara, Dedy N. Hidayat, Marwah Daud Ibrahim, Onong Efendi Uchayana, dan sebagainya. Karya-karya mereka telah memberi warna bagi eksistensi kajian ilmu komunikasi di Indonesia.
Ilmu Komunikasi merupakan fenomena Amerika, bila kita lihat dari penggunaan sebutan Ilmu Komunikasi. Perhatikanlah, di Indonesia pada awalnya lebih dikenal pendidikan Publisistik. Istilah yang menandakan meneruskan tradisi Jerman. Namun sejak dekade 70-an mulai digunakan istilah Ilmu Komunikasi dimana pendidikan jurnalistik hanyalah salah satu bidang yang terutama masuk dalam kelompok komunikasi massa.
Jejak tradisi Amerika dalam kajian ilmu komunikasi di Indonesia dapat dilihat melalui figur M. Alwi Dahlan yang berkesempatan belajar langsung pada para perintis kajian Ilmu Komunikasi seperti Wilbur Schramm, Elihu Katz, Gregory Bateson, dan sebagainya. M. Alwi Dahlan, doktor komunikasi pertama Indonesia ini, pada tahun 60-an sudah lulus dan berkiprah di Indonesia. Upaya M. Alwi Dahlan mengenalkan Ilmu Komunikasi tampak baik melalui Fisip UI maupun lembaga seperti penerbitan atau riset serta kantor pemerintahan. Tentu saja juga melalui organisasi seperti ISKI, Perhumas, dan terakhir menjadi Menpen.
Kenyataannya dalam pendidikan tinggi komunikasi di Indonesia, dominasi kiblat tradisi Amerika dari kalangan administratif riset menonjol. Studi Ronny Adhikarya telah menunjukkan hal ini. Kecenderungan ini rupanya tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga umumnya di Asia Tenggara, dan juga di benua lain.
Ilmu Komunikasi berawal dari dekade 40-an ketika Amerika menghadapi propaganda dalam rangka menghadapi peperangan. Beberapa prakondisi ketika itu adalah adanya ancaman Nazi dalam memperluas kekuasaannya, kebutuhan untuk mendapat dukungan rakyat dalam rangka menghadapi perang dunia kedua, dan kebutuhan mempelajari propaganda lawan seperti Jerman. Maka dalam konteks inilah kajian komunikasi dirintis. Kemudian setelah masa perang, tradisi ini kemudian dilanjutkan bagi kepentingan dunia komersial.
Sejumlah ilmuwan yang dikumpulkan pemerintah—dalam hal ini departemen pertahanan—berkumpul dalam rangka kepentingan menghadapi peperangan. Beberapa figur tersebut, yang kemudian dilembagakan Scramm menjadi ilmu komunikasi, seperti Paul F. Lasarfeld, Hovland, Lasswell, Berelson, Shannon, Scramm, dan sebagainya. Setelah PD II, kajian komunikasi yang muncul dalam konteks perhatian yang besar terhadap propaganda dilanjutkan bagi kepentingan dunia industri.
Generasi yang melahirkan Ilmu Komunikasi ini yang kelak dikenal sebagai kelompok administrative riset cenderung mengembangkan komunikasi sebagai fenomena transmisi, yakni pengiriman informasi. Tidak heran pula, kajian komunikasi dominan sebagai kajian komunikasi massa. Dalam konteks inilah kita mengenal sejumlah model komunikasi seperti Shannon, Lasswell, Scramm, SMCR dan sebagainya.
Demikian pula penelitian komunikasi identik dengan kajian tentang media. Seperti Content Analysis, Uses & Gratification, Agenda Setting, Cultivation Analysis, survey dampak media, dan sebagainya. Model penelitian ini sudah familiar dalam kajian komunikasi. Namun sekali lagi menunjukkan dominannya kajian komunikasi massa.
Dewasa ini kita memerlukan untuk memahami tentang pentingnya memperhatikan kajian komunikasi yang lebih komprehensif. Bahwa komunikasi massa hanyalah salah satu bidang kajian dalam Ilmu Komunikasi. Padahal disebutkan bahwa awal abad 20 kajian lebih banyak tentang fenomena retorika. Sementara tahun 70-an mulai muncul kajian tentang komunikasi antar personal. Bidang-bidang seperti ini kelihatan belum begitu berkembang di Indonesia.
Satu hal penting pula yang perlu dipaparkan bahwa terjadi pergeseran penting dalam pandangan mengenai komunikasi di Amerika. Yakni pada awalnya, pemahaman tentang komunikasi berangkat dari pandangan yang humanistik sebagaimana dikembangkan kelompok Chicago. Tapi dengan munculnya kelompok administrative riset di masa propaganda tahun 40-an, terjadi perubahan cara pandang terhadap makna komunikasi. Dalam konteks ini dapat dimengerti kemudian pandangan filosofis tentang komunikasi mengalami pergeseran. Walaupun kemudian, menurut Everret M. Rogers, dewasa ini model komunikasi sebagai pemaknaan (meaning) juga mulai mendapat tempat kembali. Pendekatan yang lebih interpretatif yang kembali merujuk pada Max Weber, dan semacamnya.
Untuk itu perlu pula untuk memperhatikan tentang pandangan dalam memahami makna komunikasi. James W. Carey menyebut komunikasi bisa dilihat dalam dua cara pandang. Pertama model transmisi dan kedua model meaning atau ritual. Model kedua belum banyak diungkap. Hal ini dapat dimengerti karena terjadi fenomena di mana sejak kehadiran model komunikasi model Shannon yang linier telah menjadi mainstream dalam memahami makna komunikasi. Padahal sebelumnya, akar kajian komunikasi di Amerika sangat humanistik atau dalam hal ini berada dalam model meaning. Hal inilah yang terjadi.
Satu hal yang menarik bahwa dua model komunikasi diatas tidak lepas dari perkembangan peradaban Barat. Misalkan model transmisi dapat ditarik pada perkembangan peradaban di Barat ketika muncul modernisasi. Ketika terjadi aufklarung, rasionalitas manusia berkembang. Dalam masa ini ditandai arti penting transportasi seperti penjelajahan samudera atau dalam konteks Amerika dibangunnya jalan raya atau rel kereta api yang mampu menghubungkan daerah-daerah baru. Maka dalam konteks ini terjadi pemindahan barang dan orang serta tentunya ide-ide. Sehingga pendatang, yang kemudian mendatangi daerah-daerah baru, kemudian terjadi eksplorasi dan seterusnya. Dalam konteks semacam ini model transmisi dalam komunikasi berkaitan dengan pemindahan informasi di mana kontrol komunikator menjadi penting. Dengan pandangan kritis, dapat kita katakan model transmisi telah ditandai dengan eksploitasi, penguasaan, dan semacamnya.
Berbeda dengan model meaning, yang mencoba untuk melihat komunikasi berkaitan dengan upaya untuk membangun komunitas (maintain community). Sebuah kolektifitas yang akur, hangat, dan semacamnya. Kehidupan kelompok yang hangat dan akrab. Model ini dikembangkan dalam generasi Chicago, sebuah masyarakat perkotaan yang di awal abad 20, di mana dalam keanekaragaman hendak mencoba untuk membangun dan memelihara komunitas. Maka komunikasi dikaitkan dengan upaya untuk memelihara nilai-nilai ini. Maka dalam cara pandang ini berkaitan dengan upaya untuk memelihara yang telah ada. Komunikasi berkaitan dengan upaya untuk membangun integrasi.
Menjadi penting untuk disadari bahwa dewasa ini kembali perhatian muncul terhadap pendekatan budaya (cultural studies) ini. Dengan demikian, fenomena cultural studies dalam kontek tradisi pragmatis Amerika dapat dipahami dalam konteks ini. Seorang tokohnya, James W. Carey, dalam tulisan-tulisannya mencoba membahas cultural studies dalam kaitannya dengan tradisi pragmatis dari Chicago ini.
Upaya untuk menoleh kembali pada cara pandang mengenai komunikasi sebagai fenomena pemaknaan (meaning) tampaknya ketika terjadi kejenuhan terhadap dominasi dari tradisi kajian komunikasi dari generasi administratif riset yang telah mendominasi selama beberapa dekade.

Perkembangan Kajian Komunikasi
Julia Wood mengamati perkembangan kajian komunikasi dalam perkembangan trend berikut ini. Bahwa terdapat relasi antara perkembangan dalam kehidupan sosial dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada dekade 40-an, perhatian ilmuwan banyak mengenai upaya memahami obedience, conformity, dan prejudice. Tema-tema ini yang berkembang setelah PD II. Pada masa itu belum ada masalah seperti HIV sebagaimana sekarang. Demikian pula, pada decade 90-an terdapat perhatian terhadap soal komunikasi berkaitan dengan soal seksualitas (Bowen & Michal Johnson, 1995, 1996).
Dulu perhatian juga lebih banyak mengenai hubungan antar pribadi seputar hubungan romantis dikalangan remaja sekolah, kalangan menengah Eropa Amerika, able bodied heterosexuals bagi yang tinggal berdekatan. Belakangan ini berkembang kesadaran mengenai pluralisme budaya yang memotivasi ilmuwan meneliti dan mengembangkan teori mengenai kalangan gay dan lesbian ((Huston &Schwartz, 1996), relasi antar individu dikalangan orang dewasa (Dickson, 1995), relasi dikalangan anggota budaya minoritas(Gaines, 1995), pernikahan permanen diantara individu dewasa, relasionsip dilakukan melewati sistim komunikasi elektronik (Lea & Spears, 1995), dan relasionsip jarak jauh (Rohlfing, 1995)
Contoh lain mengenai pengaruh budaya pada pengembangan ilmu pengetahuan adalah penekanan pada individu pada sebagian besar teori komunikasi Barat (Western). Pada masyarakat lain seperti Asia, nilai-nilai kolektif atau komunal lebih dihargai. Jadi teori-teori dari Timur (Oriental) melihat bagian terkecil pada kolektifitas. Dan tidak pada individu. (Wenzhong & Grove, 1991). Perhatian mengenai hubungan yang saling bergantung (interdependent) lebih penting daripada independent (Chang & Holt, 1991). Selanjutnya, ideologi dominan dalam budaya kolektif menekankan harmoni, konformity pada kelompok, kerendahhatian (humility), dan perbedaan yang kontras pada budaya individualis yang menekankan pada pernyataan (assertion), kepercayaan diri, otonomi, dan konflik (Berg&Jaya, 1993; Klopf, 1991).
Bertentangan dengan teori-teori komunikasi Barat yang menekankan pada perhatian utama pada pemunculan diri (self disclosure), ahli teori Timur telah menunjukkan sedikit minat pada penunjukkan (revelations) pribadi dan menunjukkan emosi, yang menunjukkan kemarahan (frowned upon) pada banyak masyarakat Timur (Ishii&Bruneau, 1991; Johnson & Nakanishi, 1993; Ting—Toomey, 1991). Hal ini menunjukkan dimana perhatian dan ideologi budaya membentuk sifat teori pada momen yang telah ada dalam kehidupan suatu masyarakat. (Wood, 359-360).
Bagaimana dengan perkembangan kajian komunikasi di Indonesia ? Mengamati beberapa penelitian penting : Rusdi Muhtar tentang dampak menonton televisi di Sulawesi Selatan, Wilbur Schramm, Gon Cu, Alfian tentang dampak satelit palapa di Indonesia, Marwah Daud Ibrahim tentang satelit palapa, Harsono Suwardi tentang peran suratkabar dalam komunikasi politik, Ibnu Hamad tentang wacana politik, Ishadi tentang televisi, Prof achmad tentang pers Indonesia, Bahtiar Aly tentang pers Indonesia, M. Alwi Dahlan tentang komunikasi politik, Efendi Ghazali meneliti tentang komunikasi politik di Indonesia periode pasca orde baru dan sebagainya. Disini juga menjadi penting untuk diperhatikan, bagaimana akar tradisi Eropa sudah lama di Indonesia dalam kaitannya dengan kajian komunikasi.
Selain itu terdapat pula sejumlah kajian yang tidak dihasilkan ahli komunikasi, tapi sangat penting bagi kajian komunikasi. Smith tentang sejarah pembreidelan pers di Indonesia, Ahmad Adam dari Malaysia tentang pers pergerakan di Indonesia, Tickell tentang pers di Indonesia, David T. Hill tentang Mohtar Lubis dan Pers Indonesia. Philip Kitley tentang fenomena dunia televisi swasta yang muncul di Indonesia diakhir 1990-an. Krisna Sen tentang film Indonesia.
Bila diawal, kajian komunikasi di Indonesia ditandai tentang kajian jurnalistik. Kini dalam perkembangan, bidang komunikasi meluas. Jurnalistik hanyalah salah satu bidang kajian. Terdapat bidang humas, periklanan, kajian tentang televisi, radio, kehadiran media-media baru seperti internet, dan sebagainya. Pada sisi lain tampak misalkan belum ada penelitian humas yang sampai menjadi pembicaraan di Indonesia. Juga kita kekurangn ahli kajian periklanan, radio, dan sebagainya. Inilah lahan yang perlu untuk dipertimbangkan para sarjana komunikasi.
Mengamati kecenderungan, kajian lulusan komunikasi umumnya dominant dalam bidang komunikasi massa. Demikian pula pakar komunikasi dapat dilihat umumnya sebagai pakar komunikasi massa. Masih sedikit yang muncul atau mendalami bidang lain seperti komunikasi organisasi, kajian public relations, komunikasi antar budaya, dan sebagainya. Maka hal inilah yang penting menjadi agenda pengelola pendidikan tinggi komunikasi agar juga mengembangkan aspek kajian diluar komunikasi massa (media studies). Sedikit pakar seperti Dedy Mulyana yang mendalami kajian komunikasi antar budaya tersebut atau Budyatna yang mendalami komunikasi antar pribadi.

Kajian Komunikasi di Indonesia
Kajian komunikasi sebagai sebuah kajian teoritis terus menerus dikembangkan. Para ahli terus menerus melakukan penelitian menguji teori hasil penelitian dalam bentuk-bentuk seminar-seminar. Di negara-negara maju tampak melalui sejumlah forum dan jurnal-jurnal yang diterbitkan. (lihat little john pada bab penutup).
Fenomena kajian komunikasi di Indonesia menunjukkan beberapa fenomena berikut.
Di Indonesia, aktivitas ilmiah dalam kajian komunikasi dapat dilihat melalui kegiatan yang diadakan oleh kampus dan ISKI atau Perhumas. Bahkan tampak pula kemunculan lembaga baru humas yaitu Public Relation Society of Indonesia yang diketuai August Parengkuan dan sekjennya adalah Magdalena Wenas, seorang praktisi PR senior Indonesia. Tampaknya institusi semacam ini yang terlihat melakukan. Demikian pula tampak melalui lembaga LSM seperti Media Watch seperti ISAI, LSPP, LKM, dan sebagainya.
Disatu sisi terdapat booming peminat kajian komunikasi berkat perkembangn media industri. Terlebih dengan hadirnya televise swasta. Namun disisi lain, kajian komunikasi belum begitu menunjukkan kecepatan yang memadai. Yang cukup menggembirakan adalah munculnya literatur komunikasi yang ditulis oleh tokoh-tokoh muda seperti Deddy Mulyana, Eriyanto, Nurudin, Wirjanto, Alex Sobur, dan sebagainya. Dulu, untuk beberapa lama, yang tampil adalah tokoh sepeti Onong U. Effendi, Jalaludin Rahmat. Figur lain yang tampil aktif dalam menulis adalah Ashadi Siregar, Novel Ali, A Muis, Ana Nadya Abrar, Sinansari Ecip, Ade Armando, Effendi Ghazali, dan sebagainya. Mereka tampil dalam tulisan artikel di media massa.
ISKI telah menerbitkan jurnal ISKI. Dibanding pada edisi awal kondisi belakangan semakin baik, yang diterbitkan oleh Rosda Karya. Namun belakangan frekuensi terbitnya semakin tidak teratur. Sebelumnya telah pula ada Jurnal Audientia yang diterbitkan di Bandung oleh figure seperti Dedy Djamaludin Malik. Namun dewasa ini tidak lagi terbit.
Sementara aktivitas besar dalam kegiatan ilmiah belum kelihatan. Dulu, Wilbur Schramm pernah melakukan penelitian di Indonesia tentang Palapa. Selebihnya, kajian yang serius barangkali tampak melalui hasil disertasi seperti yang sudah diterbitkan adalah Harsono Suwardi tentang komunikasi politik. Penelitian lain yang sering dirujuk adalah karya Rusdi Muhtar tentang pengaruh televisi dikalangan masyarakat di Sulawesi Selatan. Yang agak baru adalah penelitian Efendi Gazali tentang komunikasi politik di Indonesia. Betapa miskinnya keberadaan bacaan komunikasi di Indonesia.
Terakhir yang tampak : tentang pers Indonesia masa kolonial oleh sejarawan Malaysia Ahmad Adam, karya Philip Kitley tentang televisi di Indonesia, Paul Tickell tentang pers Indonesia, . Dulu pernah ada penelitian tentang pembreidelan pers di Indonesia oleh Smith. Sementara Daniel Dhakidae dengan pendekatan ekonomi politik meneliti pers industri masa orde baru. Demikian pula David T. Hill tentang Mochtar Lubis dan pers orde baru. Demikian pula terdapat Ronny Adhikarya yang meneliti tentang pendidikan komunikasi di Asia, salah satunya di Indonesia. Juga Akhmad Adam tentang pers masa colonial.
Beberapa disertasi seperti Marwah Daud Ibrahim tentang satelit palapa, Bahktiar Aly tentang pers Indonesia, dan sebagainya. Ibnu Hammad tentang analisis wacana pers Indonesia. Ishadi SK tentang fenomena televise di Indonesia. M. Alwi Dahlan menulis disertasi tentang komunikasi politik.
Sejumlah PT tampak menonjol seperti Departemen Komunikasi UI, Unpad, UGM, Unhas. Sedangkan beberapa yang lain seperti Undip, Unair, UNS. Sedangkan swasta tampak seperti IISIP, dan sebagainya. Tentu saja fenomena lain seperti sejumlah PTN dan PTS yang membuka jurusan Ilmu Komunikasi.
Maka bagaimana prospek dan arah kajian komunikasi di Indonesia kedepan ? Rasa-rasanya wacana kajian komunikasi di Indonesia belum begitu hangat memperbincangkan hal ini. Tampaknya dibutuhkan peran aktiv lembaga kajian komunikasi. Dalam hal ini terutama kalangan kampus melalui pusat studi komunikasi. Diskusi-diskusi tentang buku-buku penting dalam bidang komunikasi, hasil-hasil penelitian komunikasi di Indonesia, sosialisasi hasil-hasil pemikiran, dan sebagainya.
Merindukan kajian komunikasi yang dinamis tampaknya masih jauh. Padahal persoalan ditengah-tengah masyarakat kita tidak sedikit. Peran ilmu komunikasi tentunya sangat diharapkan. Seperti kecemasan terhadap dampak televise, vcd, dan sebagainya. Masih jelas dalam ingatan, ketika temu mahasiswa komunikasi se Indonesia di Undip Semarang (1994) muncul wacana tentang sebaiknya ISKI dibubarkan karena tidak memiliki kontribusi bagi persoalan komunikasi di Indonesia. Terlebih ketika itu, sedang terjadi Pers Breidel terhadap Tempo Editor Detik dimana suara ISKI tidak terdengar.
Namun demikian hingga dewasa ini, ISKI masih satu-satunya yang dapat rutin melakukan kegiatan. Seperti tampak melalui simposium kurikulum yang reguler diadakan. Tentu saja wacana yang berkembang disini menjadi penting untuk diperhatikan dan menjadi rujukan bagi berbagai kalangan. Terutama lembaga pendidikan tinggi komunikasi yang semakin banyak jumlahnya.
Tampaknya agenda ke depan perlu untuk semakin menjadikan ilmu komunikasi dapat berfungsi dalam kehidupan bermasyarakat. Melalu penerbitan jurnal, diskusi, buku, penelitian, dan sebagainya. Partisipasi dari berbagai kalangan sangat diperlukan.
Ada hal yang menarik dari figure pakar komunikasi M. Alwi Dahlan. Yakni ketika beliau dalam perjalanan karir panjangnya sebagai pakar komunikasi dimana upaya untuk menunjukkan kontribusi keberadaan ilmu komunikasi di Indonesia ketika beliau diangkat menjadi menteri penerangan RI terakhir masa Soeharto. Setelah sebelumnya lama menjadi staf ahli di kementerian lingkungan hidup. Melalui jabatan sebagai menteri sebagai keberhasilan dalam mengenalkan kajian komunikasi di Indonesia.
Maka kini dengan tingginya minat masyarakat memasuki bidang ilmu komunikasi menjadi penting untuk dijelaskan. Kalangan yang bergerak dalam penyelenggaraan bidang pendidikan komunikasi perlu untuk mengangkat wacana tentang hal ini. Semakin sering memperbincangkan sehingga didapat pemikiran yang semakin matang. Yang pada akhirnya dapat memperkuat keberadaan ilmu komunikasi di Indonesia.
Rasanya menjadi sesuatu yang janggal ketika masyarakat semakin berminat memasuki bidang ilmu komunikasi, namun perbincangan dikalangan komunitas pengkaji ilmu komunikasi tidak intens. Rasa-rasanya terdapat persoalan besar dan mendasar dalam hal ini. Betapa lemahnya tradisi keilmuan kita. Dan rasa-rasanya ini tidak pernah tuntas dan habis-habisnya.

Mengajar Ilmu Komunikasi dan Cultural Studies

Belajar Ilmu Komunikasi dewasa ini kita berada dalam suatu pola baru. Artinya, ternyata tidak hanya belajar apa yang disebut sebagai ilmu komunikasi tapi sekaligus juga cultural studies. Dasarnya adalah apa yang berkembang dewasa ini dalam pendidikan tinggi komunikasi yang mulai mengangkat tema-tema kajian yang popular dari tradisi cultural studies.
Untuk menjelaskan mengenai keterkaitan antara Ilmu Komunikasi dengan Cultural Studies ini mengacu pada perdebatan yang pernah terjadi pada decade 60-an dengan tokoh utamanya Raymond William. Tokoh dari Inggeris ini memandang bahwa kajian ilmu komunikasi versi Amerika yang pada awalnya khusus mengkaji komunikasi massa atau media studies. Tentunya yang dimaksud berada dalam konteks kemunculan kajian ilmu komunikasi produk generasi 40-an yang terlibat dengan proyek Amerika untuk menghadapi PD II. Model kajian komunikasi dari generasi ini merupakan kajian komunikasi model transmisi ketika model Shannon Weaver telah menggeser kecenderungan kajian komunikasi menjadi semacam ini dan seketika model kajian komunikasi ala Chicago semakin memudar. Sebagaimana kita ketahui, model Chicago menarik dimana kajian komunikasi lebih humanistik. Kajian komunikasi dilakukan dalam rangka untuk membangun komunitas.
Menurut William, media massa hanyalah salah satu komponen dari kebudayaan (cultural studies). Maka mestinya kajian komunikasi itu lebih tepat sebagai Cultural Studies. William dalam konteks Eropa, Kelompok yang muncul sejak dekade 60-an ini, mencoba melihat komunikasi sebagai bagaian dari kajian budaya. Terutama lagi perhatian terhadap kesenjangan, konflik, kelompok minoritas, dan semacamnya. Cultural studies memberi perhatian terhadap kelompok minoritas dan memandang realitas terdiri atas banyak konflik yang masing-masing mewakili identitasnya. Dan konflik yang dimaksud adalah konflik ideologi. Tokoh terakhir terpenting dari aliran ini adalah Stuart Hall.
Sesungguhnya, tradisi Chicago—yang merupakan salah satu tradisi kajian awal komunikasi di Amerika–dikenal memiliki kedekatan dengan tradisi ilmu sosial Eropa yang berada dalam paradigma interpretatif. Sekalipun kemudian agaknya dapat disebutkan pula, kajian budaya tradisi Chicago di Amerika dapat disebutkan bahwa mereka tidak berkecenderungan pada Marxisme sebagaimana kecenderungan cultural studies di Eropa, terutama dari Birmingham sejak dekade 60-an berangkat dari neo Marxisme.
Sementara kita ketahui bahwa tradisi Amerika yang muncul dari generasi tahun 40-an telah menjadi mainstream termasuk di Indonesia. Maka dalam pendidikan tinggi komunikasi literatur pun merujuk pada tradisi ini, sebagaimana dapat dilihat populernya figur-figur seperti Scramm, Hovland, Lazarfeld, Berlo, Shannon Weaver, Berelson, Merton, dan sebagainya. Jadi faktor ini pula dapat dimengerti ketika terjadi perubahan nama dari Jurusan Publisistik yang menunjukkan pengaruh tradisi Jerman menjadi Jurusan Ilmu Komunikasi. Indonesia yang sedang membangun dengan proyek modernisasi di bawah Orde Baru banyak berkiblat ke Amerika. Dalam konteks ini pula kelahiran Ilmu Komunikasi Amerika sejalan dengan proyek modernisasi Amerika setelah keluar sebagai pemenang dalam PD II.
Tidak bias dipungkiri bahwa model transmisi telah berjaya pada masa Orde Baru. Masa pembangunan dan industri berkembang. Sementara kajian cultural studies terdengar dari sudut kepentingan yang lebih reformis untuk mengadakan pembaharuan dan kritik terhadap mainstream. Dalam konteks Indonesia, pendekatan semacam ini telah menjadi pilihan kalangan intelektual kritis dan penggiat masyarakat. Maka sejak dekade awal 90-an perhatian terhadap cultural studies mulai terdengar, termasuk dalam konteks kajian komunikasi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dominannya tradisi Amerika dalam pengajaran komunikasi kita. Idealnya memang keseluruhan perspektif dikenalkan sehingga kemudian mahasiswa sendiri yang menentukan pilihan. Beberapa teman mengalami hal semacam ini. Ada keterlambatan menyadari adanya perspektif lain dalam kajian ilmu komunikasi.
Bila Ilmu Komunikasi (Massa) banyak memberi perhatian kepada kajian media (media studies), maka cultural studies memperhatikan banyak hal. Cultural studies mencoba menjelaskan tentang fenomena masyarakat kontemporer, dalam pengertian masyarakat informasi atau masyarakat kapitalisme lanjut. Misalkan beberapa tema yang dikaji adalah tentang lifestyle, fashion, sub culture, atau kelompok-kelompok minoritas. Asumsi yang digunakan dalam hal ini adalah adanya konflik ideologi atau identitas di masyarakat.
Maka kini ketika mengajarkan Pengantar Ilmu Komunikasi atau Teori Komunikasi—bahkan Filsafat dan Etika Komunikasi, kedua-keduanya harus diajarkan. Apa yang ditampilkan LittleJohn dalam bukunya menunjukkan kecenderungan semacam ini pula. Artinya, keseluruhan paradigma telah diakomodir. Tidak lagi dalam konteks kajian komunikasi massa terutama generasi Lazarfeld, Schramm, Lasswell, dan semacamnya. Demikian pula buku Rogers, A History of Communication Study ; A Biographycal Approach menunjukkan adanya fenomena cultural studies yang perlu pula ditelaah kalangan pengkaji ilmu komunikasi. Demikian pula John Fiske juga menunjukkan keberadaan dua paradigma besar yakni Empirisme School dan non empiris (semiotic, postrukturalist, etc).
Hal lain yang perlu juga untuk dikemukakan adalah pendekatan berdasarkan nilai-nilai ‘Timur”. Dalam konteks ini pandangan dari Timur seperti Asia atau Middle East yang berangkat dari Tradisi Agama Islam atau kepercayaan seperti Hindu, Budha, Tao, dan sebagainya. Sehingga kita bias lebih utuh untuk melihat kajian ilmu komunikasi. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kajian komunikasi (Ilmu Sosial pada umumnya, pen) dalam tradisi Barat (Amerika dan Eropa) tidak dapat dilepaskan dari pandangan Judeo Cristian yang berakar dari tradisi Yunani dan Romawi.
Salah satu hal penting dari tradisi Timur adalah cara berfikir yang holistik, tidak menekankan pada individu tapi kolektivitas, serta pentingnya emosi dan spiritualisme. Tentu saja kecenderungan semacam ini akan mempengaruhi proses keilmuan. Sementara Barat sangat rasional empiris, individu sebagai pusat, pentingnya kompetisi, dan sebagainya. Dari sini kita dapat melihat bagaimana keterkaitan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat tersebut.
Hal ini dapat dirujuk pada buku seperti The Asian Perspective of Communication Theories. Misalkan beberapa pemikiran dari tradisi Islam dapat dilihat dalam tulisan-tulisan Hamid Mowlana, Mohammad Ayis.
Umumnya yang dikembangkan selama ini, kajian ilmu komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi massa dalam konteks Amerika. Maka figur yang dikenal adalah Lasswell, Schramm, Lazarfeld, Berelson, Shannon, Katz, dan sebagainya. Ketika hal ini ditanyakan kepada Prof M. Alwi Dahlan, menurutnya hal ini berkaitan dengan orientasi pendidikan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Tampaknya hal ini dapat dimengerti, karena model transmisi yang sering disebut sebagai kajian administratif memang diperlukan bagi dunia industri atau Negara dalam hal ini tentang komunikasi pembangunan dalam konteks modernisasi. Mungkin ini yang disebut sebagai rasionalitas instrumental.
Belum terdengar figur dari Eropa misalkan seperti Raymond William, Stuart Hall, Boudrilard, dan sebagainya. Atau kalaupun dari Amerika belum terdengar figur Douglas Kellner, James W. Carey, dan sebagainya.
Namun pada dekade 90-an muncul wacana postmodernisme yang diantaranya telah mengenalkan kajian tentang wacana, semiotik, hermeneutik, dan sebagainya. Sebuah kajian yang berjalan beriringan dengan gerakan prodemokrasi di Indonesia. Suasana ketika kritik terhadap proyek modernisme telah berlangsung. Sementara kajian cultural studies yang berwatak reformis mendapat tempat karena memperhatikan kalangan yang tertindas, lemah, dan semacamnya.
Maka kini dalam era transisi menuju demokrasi dan reformasi, keberadaan kajian ini masih berlangsung. Dapat dijumpai dalam kajian tentang multikulturalisme. Termasuk juga alat analisis untuk melihat sejumlah gejala kontemporer seperti gaya hidup, budaya kapitalisme lanjut, kelompok-kelompok komunitas (subculture) dan sebagainya.
Dalam konteks semacam ini kajian komunikasi dewasa ini diajarkan. Walaupun di sisi lain juga terdapat kondisi. Agar terdapat keutuhan dalam memahami pengertian komunikasi.
Maka dapat dilihat betapa dalam tradisi keilmuan kita jumpai perdebatan paradigmatik. Senantiasa terjadi dialog antar paradigma. Hal ini tentu saja berkaitan dengan keberadaan ilmu tersebut yang berkaitan dengan kondisi masyarakat ketika itu. Misalnya, Chicago School berkaitan dengan kondisi masyarakat urban yang heterogen dimana ada kebutuhan untuk membangun kebersamaan. Maka kajian ilmu sosial lebih humanistik. Sementara model transmisi yang muncul dalam konteks ketika ada kepentingan untuk mengembangkan propaganda baik dalam konteks politik maupun industri. Maka kajian ilmu sosial pun dalam kepentingan melakukan propaganda. Demikian pula model cultural studies di Eropa yang disuarakan oleh mereka yang peduli terhadap kalangan minoritas seperti perhatian Raymond William terhadap kalangan pekerja di Inggris yang diteruskan pula oleh Stuart Hall. Atau dalam konteks Amerika, kajian cultural studies berkaitan dengan kritik terhadap industri atau modernisasi.
Demikian pula seperti Komunikasi Antar Budaya yang dikembangkan Amerika ketika memiliki kebutuhan untuk memahami bangsa lain. Amerika setelah PD II keluar sebagai pemenang dan memimpin proyek modernisasi. Disatu sisi terdapat iklim dimana para politisi mereka kurang memahami bangsa lain yang sering menjadi kesulitan dalam melakukan hubungan. Maka dengan melibatkan para ahli antropologi seperti Edward Hall, maka peletakan dasar kajian Komunikasi Antar Budaya dilakukan.
Demikian pula untuk Komunikasi Internasional yang juga tidak terlepas dari kebutuhan Amerika dalam menghadapi interaksi yang semakin intens dengan bangsa lain. Maka kajian tentang Komunikasi Internasional menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Salah satu yang mempelopori adalah Wilbur Schramm, yang pernah meneliti ketika Perang Korea. Kaitannya dengan komunisme.Tokoh lain dalam komunikasi internasional adalah Hamid Mowlana, Majid Tehranian, dan sebagainya.
Bahwa tema lain yang penting pula adalah dari pada ilmuwan yang memperhatikan kepentingan negara-negara dunia ketiga. Bahwa tema-tema yang berbeda dengan kecenderungan yang dikembangkan dalam pemikiran Barat. Misalkan dapat disimak dari tulisan Majid Tehranian tentang komunitarian, yang memberi arti penting pemimpin komunitas. Demikian pula isu Tata Informasi Dunia Baru. Juga soal komunikasi pembangunan untuk kepentingan proyek modernisasi. Tentu saja dalam konteks komunikasi ini juga dipakai.Kritik terhadap teori modernisasi juga muncul dengan hadirnya teori dependesia.
Maka menarik untuk mencermati bahwa kondisi yang dihadapi masyarakat Indonesia dewasa ini menjadi penting untuk dipertimbangkan untuk konteks kajian ilmu komunikasi. Sejumlah persoalan misalkan transisi menuju demokrasi, konflik politik, pemikiran keagamaan, dan sebagainya. Demikian pula konsumerisme.
Misalkan menjadi penting untuk mengembangkan kajian komunikasi antar personal, terutama untuk kepentingan masalah komunikasi keluarga, resolusi konflik, komunikasi organisasi, dan sebagainya. Demikian juga komunikasi dalam dunia pendidikan, yang sangat kental dengan pendekatan komunikasi antar personal.
Untuk mendekatkan kajian komunikasi untuk kasus-kasus Indonesia menjadi penting untuk memberi apresiasi terhadap karya-karya ilmu sosial yang sudah ada seperti Sartono Kartodirjo, Kuntowijoyo, Kuncaraningrat, dan sebagainya. Upaya untuk mencari landasan untuk konsep komunikasi Indonesia. Juga tradisi kajian tentang Indonesia yang dikerjakan dalam tradisi kolonial baik oleh pejabat kolonial maupun orientalis. Hal ini sebagai pertimbangan mengenai tradisi kajian komunikasi khas Indonesia.
Sebuah contoh fenomena komunikasi di Indonesia adalah soal logika terbalik. Cukup familiar di kalangan pers Indonesia—terutama pada masa orba—bila ada sebuah berita yang isinya bantahan itu faktanya sebaliknya. Ini menarik untuk mengungkapkan tentang budaya komunikasi Indonesia.


Responses

  1. halaaah
    gak mudeng aku..aku ae seng pakar mahsiswa malah gak mudeng


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: