Oleh: paksoleh | Maret 12, 2009

Banyak Guru Belum Paham Paradigma Pembelajaran

Pergeseran paradigma proses pendidikan, menurut pakar
pendidikan Diana Nomida Musnir, agaknya belum dipahami sepenuhnya oleh
para pendidik di Indonesia. Perubahan paradigma dari ‘pengajaran’ ke
‘pembelajaran’ merupakan perpindahan pusat proses pendidikan dari guru
ke murid, dari transfer pengetahuan ke transformasi pengetahuan.
Pasalnya, guru sendiri belum siap dengan kondisi ini.
“Misalnya, akhir-akhir ini karena ramai isu kenaikan BBM, kita sering
dengar istilah ‘barrel’ tapi nggak paham tentang istilah itu,” ujar
Diana dalam Workshop Nasional Penerapan Model Pembelajaran Inovatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial Di Sekolah di Jakarta. Diana
sempat menanyakan makna ‘barrel’ ke para peserta workshop namun
ternyata banyak yang tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, menurut
Diana, perubahan paradigma tersebut meminta para guru untuk memperkaya
diri terlebih dahulu sehingga anak didik memperoleh wawasan yang kaya pula.
“Bagaimana kita mengharapkan anak didik kita utuh kalau kita sendiri
tidak utuh dan tidak belar untuk utuh? Ini bisa dapat dicapai bukan
dengan pembelajaran monodisiplin, multi maupun inter, tapi
transdisiplin,” ujar Diana. Selain itu, pada faktanya kebutuhan murid
belum dijadikan sentral oleh para guru supaya potensi murid dapat
digali secara optimal. “Kita ini adalah pelayan anak. tapi sampai
sekarang ini, kita banyakan menuntun anak atau malah menuntut,” tandas Diana.
Proses pembelajaran harus dikembangkan menggunakan prinsip
pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan,
atau yang biasa disebut PAKEM. Secara aktif, guru harus belajar
memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang atau
mempertanyakan siswa. Secara kreatif, guru harus mampu mengembangkan
kegiatan yang beragam dengan alat bantu yang sederhana.
“Tantangan biasanya adalah alat bantu yang mahallah atau apa, tapi
sebenarnya guru bisa mulai dengan sederhana, memanfaatkan apa yang ada
di sekitar kita untuk menantang murid kreatif. Murid yang kreatif itu
yang bisa merancang membuat sesuatu, menulis dan mengarang,” tukas Diana.
Sedangkan untuk membuat sesuatu yang menyenangkan, guru harus belajar
untuk tidak membuat anak takut ketika salah atau tidak menganggapnya
remeh. Caranya yang sederhana, menurut Diana, melalui raut muka yang
tidak segera berubah ketika anak salah menjawab sehingga anak tersebut
tidak takut lagi mengeluarkan pendapatnya dalam kesempatan lain.
Sumber : Kompas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: