Oleh: paksoleh | Maret 14, 2009

“Teori Berak” dalam Menulis

Note: tulisan ini dikutip dari link ini
Menulis itu kan ‘menuangkan’ pikiran, melahirkan apa-apa yang ada di pikiran, apa yang dipikir. Kalau banyak membaca akan banyak hal bisa diolah, otak itu ibarat komputer. Apabila ada input akan terjadi process melahirkan output. Bacaan itu agar otak bisa bekerja dan hasilnya lebih bagus. Tidak lucu kalau otak disuruh bekerja sementara raw materials cekak. Bisa-bisa haus itu sel-sel syaraf. Bisa gila, bo.

Atau mau contoh yang sedikit jorok. Kalau kita banyak makan akan menumpuk di lambung. Mesin lambung akan menggilingnya, mana yang baik dijadikan ‘makanan’ tubuh, ampasnya akan menjadi tahi. Dari masukan makanan itu akan terpenuhi kebutuhan tubuh, kita akan sehat. Kalau berlebihan tentu saja sakit. Banyak makan akan banyak berak he … he … Kira-kira begitu contoh gampangnya.

Kalau tidak makan, apa yang mau dikeluarkan dubur? Paling-paling kentut. Kalau lambung tidak ada isinya, akan terjadi gesekan yang berakibat penyakit maag. Begitu kata dokter. Begitu juga menulis. Kalau sampeyan merenung terus-menerus, berpikir, tapi bahannya tidak diraup dengan membaca, bisa gila lho, sebab otak bisa rusak. Pendek kisah, harus banyak membaca.

Jadi, kalau bermaksud menjadi penulis, ya banyak membaca. Harus banyak masukan ke otak. Kalau punya entry behavioure yang cukup pastilah menulis jadi mudah. Ya itu, kalau banyak makan, tidak berak-berak, perut bisa meledak. Pasti ada kelainan. Sampeyan tidak mau kan punya kelainan? Ingat, menulis itu adalah mengeluarkan apa yang ada di otak, yang diolah otak. Punya teman yang suka ngomong sepanjang hari? Dia itu orang cerdas yang tidak paham arti kecerdasan. Kalau dia mau belajar menulis, pasti menjadi penulis hebat. Sebab, cara kerja otaknya cepat.

Tapi, sekali lagi ingat, agama kita tidak menganjurkan orang suka omong banyak. Omongan itu tidak bisa dipegang, begitu keluar, ditelan ruang. Kalau menulis, bisa dilihat betul-salahnya. Mereka yang punya pengetahuan luas, banyak ilmu, tidak mau menulis, jangan-jangan takut kalau menulis bisa terlihat seketika, dia pintar atau tidak. Menulis itu tidak main-main, lho. Contoh, suatu kali sebuah surat kabar nasional menulis tentang Nabi Muhammad SAW. Tidak ada niat menghina Rasulullah. Tapi, apa lacur, redaktur kurang hati-hati. Nabi yang seharusnya ditulis dengan n tertulis b, jadi babi. Datang protes dari mana-mana, didemo kalangan Islam.

Dengan kata lain, kalau pun bahan-bahan untuk ditulis sudah menumpuk di otak, harus pula hati-hati menuliskannya. Kalau tidak, salah menulis satu huruf saja, fatal akibatnya. Itu soal huruf, apalagi soal rangkaian tulisan.
Memotivasi
Rangkaian tulisan ini memang sarat dendang menyamankan, memandang enteng menulis, atau sedikit maulu-ulu, memang sengaja disajikan sedemikian agar dalam membacanya otak Sampeyan sedikit diaduk-aduk. Kalau yang datar-datar, yang sarat teori, ya beli saja buku teori menulis yang banyak beredar.

Tapi, kalau ingin belajar menulis dengan enteng, mudah dan tidak membeban, ambillah manfaat positif rangkaian tulisan saya yang lebih ke arah memberi motivasi dibanding menggurui. Syaratnya pun sederhana, menulis adalah urusan pribadi. Kalau mau menulis, tulis saja, pasti jadi tulisan. Begitu mudahnya. Semoga.


Responses

  1. He he

    • thanks atas tulisannya ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: